Wednesday, May 4, 2011

Sakaw Milo

I can’t tell the world what to do, but I can start my day with Milo Sludge – Jinchoge Haname (Instant Numa, 2008)

“Cilaka! Milo habis!” Itu jeritan hati saya Minggu malam lalu. Dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan karena kehujanan dan kecipratan air sepanjang perjalanan, kehabisan Milo bagaikan sebuah mimpi buruk. Bagaimana tidak, sepotong kenikmatan hidup menguap begitu saja.

Saya tatap Tupperware yang biasanya berisi serbuk Milo. Hampa. Kosong. Nihil. Tanpa tersisa sebutir pun. Saya mengutuki diri sendiri yang sebelumnya lupa beli Milo saat perjalanan pulang. HIKS

Saya suka Milo. Kenapa Milo? Karena saya tak suka Dancow. Kenapa Milo? Karena saya tak suka Ovaltine. Kenapa Milo? Bawel ya! Saya sudah minum Milo sejak umur 4 tahun jadi jangan tanya alasan saya suka Milo.
Milo.

Dari dulu saya minum minuman tonik produksi Nestlé ini. Dua kali sehari, biasanya. Saat pagi dan sore atau malam hari. Diminumnya pun dengan cara yang sangat konservatif, jika tidak mau dibilang kuno. Sejumlah Milo diseduh dengan air hangat 150 mL kemudian diminum. Sesederhana itu. Jika tokoh Haname di film Instant Numa bisa berkreasi dengan membuat Milo Sludge, jika FoodFezt mempunyai menu yang bernama Milosaurus, maka cara saya menikmati Milo hanya dengan menyeduhnya dengan air panas.

Ada kriteria tertentu untuk menentukan enaknya sebuah racikan Milo. Jika Milo yang diracik sudah berwarna coklat agak-tua-pekat maka itu akan menjadi minuman Milo yang sangat lezat. Saya menyebutnya Milo-yang-Sempurna (The perfect Milo)

Takaran pastinya tidak diketahui karena saya memakai wadah Tupperware yang biasanya dipakai orang untuk menyimpan kecap. Jadi takarannya hanya bersifat intuisi.

Milo. Dari dulu saya meminumnya. Dari dulu pula saya menganggap Milo adalah susu. Apa boleh buat, sewaktu kecil dulu saat saya disuruh minum susu, orangtua atau si Mbak selalu menyodorkan segelas Milo pekat. Hanya Milo, tanpa diberi susu atau gula. Karena sudah lama dan sudah suka, dosis Milo yang saya konsumsi semakin meningkat setiap waktu. Bila normal, 300 gram Milo habis dalam seminggu. Dalam bayangan saya, semakin banyak minum Milo berarti akan membuat saya semakin tinggi atau setidaknya menambah berat badan.

Baru-baru ini saja saya tahu jika Milo itu bukan susu, melainkan minuman barley.

Pantas saya kurang kalsium.

Pantaslah saya tidak bisa setinggi Sooyoung.

Saya suka Milo. Karena Milo banyak macamnya. Tidak cuma susu eh serbuk minuman barley, Milo hadir dalam bentuk sereal, nugget (bola-bola cokelat), choco bar, UHT, Milo kaleng, atau (ini favorit saya) es krim.
Es krim Milo ini dikemas dalam kemasan cup. Rasanya coklat Milo dengan taburan butiran Milo di sekelilingnya. Rasanya, wuih….kalah deh Magnum.

Dulu, di koperasi IC ada ice box Nestlé. Di situlah saya mencicipi es krim Milo untuk kali pertama. Saya ingat, itu terjadi saat hari pertama tes seleksi masuk. Mengingat es krim Milo begitu lezat dan langka, saya yang saat itu tak punya motivasi apa-apa menjadi termotivasi untuk masuk IC. Alasannya? Biar bisa beli es krim Milo lah… #terdengarsalah

Namun di tahun kedua, ice box Nestlé di koperasi menghilang dan diganti ice box W*lls. Meh!

Milo. Dari dulu saya meminumnya. Dengan cara sederhana. Bagi saya, minum Milo hangat di malam yang dingin itu adalah kenikmatan yang luar biasa. Bagi saya, Milo adalah sumber semangat saya.

Jika tokoh Haname di film Instant Numa menganggap “satu hari tanpa Milo itu adalah satu hari tanpa Milo sludge”, maka saya menganggap “satu hari tanpa Milo adalah satu hari tanpa semangat.”

Dan ini sudah hari ketiga tanpa Milo. Jadi sudah 3 hari saya berlalu tanpa semangat. Ibarat pecandu, saya sudah dalam tahap sakaw.

Saya butuh Milo. Saya rindu Milo. Saya HARUS minum Milo.
Published with Blogger-droid v1.6.8

Tuesday, May 3, 2011

Hari yang Aneh

(“Kisah nyata lebih fiktif dari cerita fiksi, kisah nyata lebih fantasi dari cerita fantasi”- Benny & Mice)

Hari ini, Selasa 3 Mei 2011. Itu artinya hari ini adalah hari ke tiga di bulan Mei. Itu artinya saya sedang senang-senangnya karena jumlah uang di ATM masih enam digit. Itu artinya uang sedang terlihat indah-indahnya. Jadi harusnya saya senang. Jadi harusnya saya bahagia.

Tapi kehidupan itu katanya lebih fiksi dari cerita fiksi. Dan hari ini, Selasa 3 Mei 2011, saya mengalami hari-yang-aneh. Aneh? Ya, aneh. A-N-E-H. ANEH.

Bukan, ini bukan cerita saya yang kesandung kabel power output Shiro lalu kejeduk TV atau menyeduh Nescafé dengan air dingin atau kemasukan nyamuk karena tidur dengan mulut terbuka. Itu sih kejadian biasa di kehidupan saya #kunyahbakwan

#1 Salah Kampus

Keanehan pertama hari ini adalah salah kampus. Bukan berarti saya tiba-tiba nyasar ke kampus teknik atau ke fakultas kedokteran #ihik.

Jadi seharusnya hari ini saya kuliah Industrialisasi Dunia Ke Tiga (sangar je namanya). Berangkatlah saya dengan Raden Mas (bukan tetangga Unyil, ini nama sepeda saya, kakak…). Kring kring kring ada sepeda, sepeda ku roda tiga, eh bukan…kring kring gowes gowes kring kring gowes…sampailah saya ke parkiran kampus. Setelah berjibaku memarkirkan Raden Mas (tumben aja hari ini banyak buanget yang gowes ke kampus #senang), saya copot helm, dan merasa ada yang aneh. Semacam galau dan entahlah, saya merasa ada yang salah. Tapi entahlah saya tak tahu apa yang salah.

Setelah merenung sekitar sepuluh menit (jadi jika tadi ada yang lihat cewek-kecil-lucu duduk bengong di parkiran FISIPOL itu SAYA) saya baru ingat sesuatu yang penting.

Industrialisasi Dunia Ke Tiga itu mata kuliah Jurusan Sosiologi --> kampus Jurusan Sosiologi ada di Sekip --> Saya di kampus Bulaksumur

Jadi saya salah kampus.

Dan itu bikin malu.

Semuanya karena saya disorientasi.

AHO! AHO! AHO!

Kemudian muncul dilema. Lanjut ke Sekip (tapi panas) atau lanjut ke kampus dan beli Milo. Saya pilih yang ke dua. Rupanya pesona Milo mengalahkan urgensi kuliah #miris

Maka beranjaklah saya ke kampus, dan bertemu Ombreng…

#2 Dikibulin dosen

Ombreng, yang notabene juga harus kuliah Industrialisasi, akhirnya berangkat setelah memutuskan untuk menitipkan tugasnya ke salah seorang temannya (asyik dapat tebengan #miris). Jadi berangkatlah kami ke Sekip.

Sesampainya di sana. Uhm…tepatnya di lantai tiga, kami bingung, dan terjadilah percakapan ini:

Ombreng (O) : Cum, ruangan berapa ya?

Saya (S) : Ruang S II. 1 deh kayaknya

O : Kaga, Cum. Ruang II. 2 (S II. 2 maksudnya)

S : Kaga, Mbreng. Ruang II. 1

O : Kaga, Cum. Ruang II. 2

Percakapan di atas berulang hingga tiga kali sampai akhirnya, kami memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan S II. 2

Kriek…pintu terbuka. Saya celingak-celinguk. Ada dua orang bapak-bapak yang ada di depan dan sedang memberi materi.

Kelas terdiam. Langkah saya dan Ombreng terhenti.

Kemudian bapak-bapak yang sedang memberi materi dan memunggungi kami sebelumnya berbalik dan menanyai saya.

Bapak-bapak : Mbak, mau masuk kelas apa?

S : Ehh…Industrialisasi, Pak.

BpBp : Bukan di sini, mbak. Salah ruangan.

S : Oh gitu, pak. Makasih.

Lalu kami menutup pintu. Tapi, lagi-lagi, perasaan “ada-sesuatu-yang-salah” kembali mendera.

O : Perasaan ini deh Cum kelasnya.
S : Ehh…gue pikir juga gitu sih.
O : Gue BBM Nessya dulu deh
S : Oke

Sembari Ombreng mengetik BBM, saya melongok kelas-kelas di sekitar kami. Sia-sia, tak ada wajah yang kami kenali. Saya jadi terpikir “jangan-jangan kelasnya pindah atau ga ada dan kita ga tahu”. Selagi berpikir demikian, saya berjalan ke papan jadwal kuliah, mencari jadwal Industrialisasi, dan ketemu.

Tertulis di sana “Ruang S II. 2”

Pada saat yang bersamaan datanglah BBM dari Nessya, yang isinya

“Itu bener kok ruangannya. Kalian tadi DIKIBULIN sama dosennya”

DIKIBULIN. DI…KI…BU…LIN. DI…. #pingsan

Kami terdiam, tercenung, dengan perasaan yang campur aduk. Antara shock, dongkol, malu, dan merasa bodoh yang luar biasa.

Akhirnya kami memutuskan untuk tidak kuliah ketimbang menanggung malu yang luar biasa jika harus masuk lagi.

Dan saat saya cerita kejadian tadi pada si Pur, teman KKN yang anak Sosiologi, dia cuma ketawa dan elus-elus saya sembari bilang “Sabar ya, Cum…Pak Arie itu emang suka iseng orangnya.” Belum cukup, dia menambahkan “Lagian kamu kenapa langsung percaya dan pergi juga ya, Bu…”

Aishhhh!!!!

#3 Lihat orang pacaran berantem

Yang ini terjadi saat saya sendirian di World Bank Corner (kita sebut saja Webeh). Para anggota Geng Webeh sudah pergi but I’m standing still beneath the darkest sky #loh #nyanyi. Ehh…maksudnya saya bertahan di situ karena sedang donlot PV *ehem* AKB48 *ehem* dan lagu Angela Aki.

Lalu muncul seorang mbak-mbak. Badannya kurus, tinggi, rambutnya diikat ekor kuda, memakai baju hitam, berjalan ke arah meja yang saya tempati, dan mukanya terlihat kesal. Tiba-tiba….

“BRAK!!!” dia melempar BlackBerry miliknya. Kaget dong saya. Si Mbak memberi saya tatapan “apa-lo-lihat-lihat” dan saya balas dengan tatapan “nggak-ada-apa-apa-mbak-tapi-sayang-itu-BBnya-dibanting”.

Selang beberapa lama, muncul seorang mas-mas. Sepertinya pacarnya Si Mbak. Si Mas duduk di samping Si Mbak. Si Mbak buang muka. Saya? Lihat speed download yang tiba-tiba turun. Cih!

Terus…terus…mereka berantem dooong. Di depan mata saya. Inti masalahnya, kayaknya sih, ada cowok yang lagi ngejar Si Mbak, entah siapa. Si Mbak kesel tapi Si Mas, sebagai pacarnya, tak mampu berbuat apa-apa. Si Mas diam, dia buka laptop dan mulai mengetik. Entah mengetik apa karena semenit kemudian dia berhenti.

Kemudian terjadi adegan yang saya pikir hanya terjadi di sinetron. “BRAKK!” si Mbak menggebrak meja sembari berkata “Ya udah!” sembari berlalu. Saya kaget (lagi).

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, si Mbak kembali sembari mengusap matanya yang merah. Sepertinya doi habis menangis #yaiyalah.

Eh terusnya…dia nangis lagi. Di depan mata saya. Ambil satu tisu….ambil lagi….ambil lagi…ambil lagi…. Terus seperti itu.

Selama itu pula, mata saya tertumbuk ke tampilan iGetter.

Hati saya menjerit.

“Oh Tuhan….keluarkan aku dari situasi iniiiiii!”

Tapi itu tidak mungkin karena sayang jika saya harus menghentikan download PV AKB48 dan satu album Angela Aki #bodoh.
Sepuluh menit kemudian donlotan saya kelar.

HOREEE!!!!

Andai saya tidak tahu malu, saya sudah joget-joget flamenco di Webeh. Tapi saya terlalu lega karena bisa terbebas dari adegan sinetron di depan mata.

Dan di puncak kebingungan itu, saya mendapati diri berjalan ke kahyangan eh perpus FISIPOL untuk baca buku.

Dan di sisa tanggal 3 Mei ini, saya termenung. Masih tak habis pikir dengan semua kejadian aneh yang menimpa saya seharian ini.

Duh Gusti….

Published with Blogger-droid v1.6.8

Monday, May 2, 2011

(lagi-lagi) Dorama

Aloha!

Jika di tulisan sebelumnya, saya sedikit bercerita tentang "kegilaan" mengonsumsi dorama, maka tulisan ini adalah follow-up tulisan tersebut #ngikik

Saya suka dorama. Itu jelas. Tercatat sudah 13 dorama yang saya tonton setahun ini. Namun di sisi lain, jumlah donlotan dan hutang episode semakin menggunung. Layaknya teori Malthus, jumlah yang ditonton bertambah seperti deret hitung sementara hutang donlotan bertambah sesuai deret ukur #macakpinter #banggabanget

Dorama itu, seperti yang sudah saya tulis, banyak macamnya. Banyak genrenya. Banyak pemainnya. Dan banyak pula episodenya #halah. Tentunya keterbatasan waktu, otak, dan kapasitas hard disk menghalangi kita untuk mengonsumsi semua dorama yang ada.

Nah berbekal pengalaman setahun menekuni dunia dorama dan melongok koleksi dorama-dorama yang ada, saya menemukan beberapa kriteria yang biasa saya gunakan untuk menonton sebuah dorama

1. TEMA

Ini penting. Memilih tema dorama ini sangat penting. Dorama memiliki variasi genre yang kaya. Karena itu tema memiliki andil besar di sini.

Saya, misalnya, adalah love-story hater. Karena itu saya cenderung menghindari dorama yang bertema percintaan. Tidak menghindari sepenuhnya sih...saya suka dorama yang tema dan atau karakternya unik (baca: sedikit aneh atau bodoh) dan keren. Seperti Kairi dan Aiai di Love Shuffle, Rika di Tokyo Love Story (ini HARUS ditonton), atau Amemiya Hotaru di Hotaru no Hikari.

Dan karena saya suka dorama bertema detektif/crime dan medis, maka saya sangat menikmati dorama semacam BOSS, Atami no Sousakan, SPEC, dan Code Blue.

2. RATING

Di sini rating dipakai untuk mengukur kualitas. Tapi perlu diingat, karena begitu banyaknya dorama di Negeri Sakura itu sangat banyak, maka jika sebuah judul mampu mencapai rating dua digit (10% atau lebih) maka dorama itu sudah bagus. Sementara jika mampu mencapai rating lebih dari 20%, seperti dua episode terakhir BOSS, maka itu sudah masuk kategori "sangat-bagus-sekali"

3. AKTOR-AKTRIS

Ini subjektif, tapi ada beberapa nama yang akan menjadi magnet saya untuk menonton sebuah judul. Faktor yang mendasarinya tentu karakter yang sering mereka mainkan.

Di kalangan aktris nama Shinohara Ryoko, Mizukawa Asami, Kuriyama Chiaki, Yoshitaka Yuriko, dan Toda Erika adalah magnet yang kuat. Sangat kuat malah, karena setiap mendapat dorama yang mereka mainkan, saya menempatkannya dalam prioritas utama.

Sementara untuk aktor, pilihan saya jatuh pada nama Odagiri Joe, Kimura Takuya (siapa yang ga suka?), Matsuda bersaudara (Shota-Ryuhei), Eita, atau Ikuta Toma adalah magnet yang mampu membuat saya menyisihkan waktu untuk menonton dorama mereka.

4. REVIEW/SINOPSIS

Kadang review bisa membantu kita untuk mengukur kualitas sebuah dorama. Di samping itu, review dan sinopsis dapat dijadikan patokan apakah saya cocok dengan judul ini atau tidak. Situs rujukan saya adalah situs DramaWiki, JDorama, atau Asian Media Wiki. Alamatnya? Googling saja! #jahat

5. TONTON SAJA

Kadang dan kadang, dorama yang ditonton begitu saja, tanpa ada apa-apa, itu adalah dorama yang menarik. Contohnya ya...Hotaru no Hikari, dorama yang berandil besar menjadikan saya sebagai Himono Onna #ngikik

Nah itu tadi kriteria yang saya pakai. Walau jika dipikir-pikir ribet amat sih mau nonton aja mesti ada syaratnya. Tapi berhubung saya selo dan kapasitas Fruti, hard disk saya itu 'cuma' 50m GB, maka saya harus buat kriteria ini. Lagian siapa yang mau sih waktunya terbuang 12 jam untuk sesuatu yang tidak disuka? #pengalaman

Sore de wa, minna-san, sayonara!
Published with Blogger-droid v1.6.8

Sunday, May 1, 2011

Terpesona Drama Asia

#31harimenulis

Akhir-akhir ini saya bersyukur TV saya rusak dan belum muncul niat untuk membeli atau memperbaikinya. Karena seiring dengan rusaknya si tivi, saya dapat menamatkan satu demi satu hutang drama Asia yang menumpuk.

Drama Asia. Saya suka drama Asia. Harap dicamkan, istilah Asia di sini mengarah pada Asia Timur. Berarti yang akan saya bahas di sini bukan serial televisi yang ceritanya upaya Inspektur Vijay untuk melawan Tuan Takur. Bukan...

Drama Asia di sini adalah istilah yang digunakan untuk menyebut serial televisi yang berasal dari negara Asia Timur. Jepang, Korea (Selatan ya, bukan Utara), Cina (baik itu Cina Daratan, Hongkong, atau Taiwan).

Saya suka drama Asia. Kenapa? Karena saya tak suka sinetron. Anda boleh berpikir ini dusta karena saya rajin ngetwit tentang Pak Prabu. Tapi percayalah, saya nonton sinetron hanya untuk melihat Pak Prabu eh Attalarik Syach.

Simpelnya, saya suka drama Asia karena saya tak suka sinetron. Alasan saya tak suka sinetron adalah karena ketidaklogisan cerita, amnesia yang berulang kali, dan adegan tabrakan yang konyol.

Saya dari dulu suka drama Asia. Suka sekali. Terutama dorama.

Agar tidak bingung, dorama adalah istilah yang biasa digunakan untuk menyebut drama televisi produksi Jepang. Kenapa dorama? Bukannya saya Japanese-minded atau penganut paham Nihonjinron ya...tapi saya ada beberapa faktor yang membuat saya jatuh cinta dengan drama negeri sakura.

Faktor pertama, panjang serial. Dorama menganut sistem musiman. Musim di sini maksudnya musim gugur-dingin-semi-panas, bukan sistem season seperti serial Amerika. Jadi dorama pasti akan berganti setiap ada pergantian musim.

Sekarang mari kita berhitung sesaat. Tiap musim lamanya 3 bulan. Sebulan ada empat minggu. Dan karena, syukurlah, dorama ditayangkan mingguan, berarti satu dorama tamat hanya dalam 12 episode. Hore sekali bukan!?

12 episode? Is it a bad thing? No. Justru di situlah hebatnya dorama. Dengan dibatasi durasi yang 'hanya' 12 episode, tim produksi 'dipaksa' untuk membuat cerita yang menarik. Ini yang menjadikan dorama begitu asyik. Konflik dan pendalaman karakter dapat tergali dan disajikan dengan baik hanya dalam 12 kali penayangan (bahkan kurang)

Kedua, variasi genre. Secara tema, dorama termasuk yang paling kaya. Tidak melulu kisah cinta seperti Tokyo Love Story *ya ampun #lawas*, ada juga tema medis (misalnya Code Blue, dr.Koto Shinryoujo, Godhand Teru), detektif atau crime (BOSS, Atami no Sousakan, SPEC) , atau drama bertema humanis (Ashita no Kita Yoshio, Inu Wa Kotou wa Iu Kotou).

Tiga, karakter. Hampir semua karakter cewek di dorama yang saya tonton adalah cewek yang keren. Bukan dalam arti perkasa, tapi yang jelas mereka bukan tipikal tokoh yang akan menangis setiap lima menit sekali atau meratap nasib saat ditinggal cowok. No...saya malah selalu benci karakter cewek yang seperti itu. Dan beruntunglah, di Jepang ada aktris yang mampu memerankan peran cewek yang keren seperti itu. Makanya saya kagum dengan Shinohara Ryoko, Kuriyama Chiaki, Karina, atau Toda Erika (dan memburu dorama yang mereka bintangi).

Asyiknya lagi, saya merasa dekat dengan karakter fiksional itu. Lebih dari itu, saya menemukan identifikasi diri dalam beberapa karakter di dorama. Contoh paling dekat adalah tokoh Amemiya Hotaru. Ini adalah karakter yang sangat makjleb dan sangat mendekati kehidupan saya sehari-hari (penasaran? Tonton Hotaru no Hikari season 1-2)

Empat, humor. Lagi-lagi bukan karena Japanese-minded sih. Tapi saya merasa cocok dengan selera humor yang ada di dorama. Mungkin karena tumbuh besar dengan mengonsumsi komik Jepang (manga), maka saya dapat tertawa dan cocok dengan adegan humor yang (kadang) diselipkan di dorama.

Karenanya, kini saya mendapati diri mengalokasikan waktu 1-2 jam untuk menonton dorama setiap hari. Alokasi waktu pun akan bertambah jika sudah menginjak akhir pekan. Jumlah waktu menonton akan bertambah 2-3 kali lipat (mungkin ini alasan skripsi ga selesai-selesai)

Kini saya mendapati diri menanti hasil download dari kampus, rajin melihat forum, mencari subtitle, dan menyambangi situs drama wiki untuk membaca review.

Dan kini saya mendapati diri menularkan 'kegilaan' saya kepada seorang teman. Yang hebatnya, memiliki dedikasi yang lebih tinggi dalam urusan menonton dorama (bo, satu judul dihabisin dua hari!)

Suatu hari saya pernah menulis kalimat ini di Twitter 'menekuni dunia drama Asia itu membutuhkan tekad kuat, semangat baja, dan dedikasi tinggi'. Oke, lebay memang, tapi memang itu yang harus dilakukan agar anda mampu menikmati dorama. Dan itu setimpal, karena Anda akan disuguhi tayangan yang berkualitas.

*ditulis sambil memutar Angela Aki*
Published with Blogger-droid v1.6.8

Terpesona Drama Asia

#31harimenulis

Akhir-akhir ini saya bersyukur TV saya rusak dan belum muncul niat untuk membeli atau memperbaikinya. Karena seiring dengan rusaknya si tivi, saya dapat menamatkan satu demi satu hutang drama Asia yang menumpuk.

Drama Asia. Saya suka drama Asia. Harap dicamkan, istilah Asia di sini mengarah pada Asia Timur. Berarti yang akan saya bahas di sini bukan serial televisi yang ceritanya upaya Inspektur Vijay untuk melawan Tuan Takur. Bukan...

Drama Asia di sini adalah istilah yang digunakan untuk menyebut serial televisi yang berasal dari negara Asia Timur. Jepang, Korea (Selatan ya, bukan Utara), Cina (baik itu Cina Daratan, Hongkong, atau Taiwan).

Saya suka drama Asia. Kenapa? Karena saya tak suka sinetron. Anda boleh berpikir ini dusta karena saya rajin ngetwit tentang Pak Prabu. Tapi percayalah, saya nonton sinetron hanya untuk melihat Pak Prabu eh Attalarik Syach.

Simpelnya, saya suka drama Asia karena saya tak suka sinetron. Alasan saya tak suka sinetron adalah karena ketidaklogisan cerita, amnesia yang berulang kali, dan adegan tabrakan yang konyol.

Saya dari dulu suka drama Asia. Suka sekali. Terutama dorama.

Agar tidak bingung, dorama adalah istilah yang biasa digunakan untuk menyebut drama televisi produksi Jepang. Kenapa dorama? Bukannya saya Japanese-minded atau penganut paham Nihonjinron ya...tapi saya ada beberapa faktor yang membuat saya jatuh cinta dengan drama negeri sakura.

Faktor pertama, panjang serial. Dorama menganut sistem musiman. Musim di sini maksudnya musim gugur-dingin-semi-panas, bukan sistem season seperti serial Amerika. Jadi dorama pasti akan berganti setiap ada pergantian musim.

Sekarang mari kita berhitung sesaat. Tiap musim lamanya 3 bulan. Sebulan ada empat minggu. Dan karena, syukurlah, dorama ditayangkan mingguan, berarti satu dorama tamat hanya dalam 12 episode. Hore sekali bukan!?

12 episode? Is it a bad thing? No. Justru di situlah hebatnya dorama. Dengan dibatasi durasi yang 'hanya' 12 episode, tim produksi 'dipaksa' untuk membuat cerita yang menarik. Ini yang menjadikan dorama begitu asyik. Konflik dan pendalaman karakter dapat tergali dan disajikan dengan baik hanya dalam 12 kali penayangan (bahkan kurang)

Kedua, variasi genre. Secara tema, dorama termasuk yang paling kaya. Tidak melulu kisah cinta seperti Tokyo Love Story *ya ampun #lawas*, ada juga tema medis (misalnya Code Blue, dr.Koto Shinryoujo, Godhand Teru), detektif atau crime (BOSS, Atami no Sousakan, SPEC) , atau drama bertema humanis (Ashita no Kita Yoshio, Inu Wa Kotou wa Iu Kotou).

Tiga, karakter. Hampir semua karakter cewek di dorama yang saya tonton adalah cewek yang keren. Bukan dalam arti perkasa, tapi yang jelas mereka bukan tipikal tokoh yang akan menangis setiap lima menit sekali atau meratap nasib saat ditinggal cowok. No...saya malah selalu benci karakter cewek yang seperti itu. Dan beruntunglah, di Jepang ada aktris yang mampu memerankan peran cewek yang keren seperti itu. Makanya saya kagum dengan Shinohara Ryoko, Kuriyama Chiaki, Karina, atau Toda Erika (dan memburu dorama yang mereka bintangi).

Asyiknya lagi, saya merasa dekat dengan karakter fiksional itu. Lebih dari itu, saya menemukan identifikasi diri dalam beberapa karakter di dorama. Contoh paling dekat adalah tokoh Amemiya Hotaru. Ini adalah karakter yang sangat makjleb dan sangat mendekati kehidupan saya sehari-hari (penasaran? Tonton Hotaru no Hikari season 1-2)

Empat, humor. Lagi-lagi bukan karena Japanese-minded sih. Tapi saya merasa cocok dengan selera humor yang ada di dorama. Mungkin karena tumbuh besar dengan mengonsumsi komik Jepang (manga), maka saya dapat tertawa dan cocok dengan adegan humor yang (kadang) diselipkan di dorama.

Karenanya, kini saya mendapati diri mengalokasikan waktu 1-2 jam untuk menonton dorama setiap hari. Alokasi waktu pun akan bertambah jika sudah menginjak akhir pekan. Jumlah waktu menonton akan bertambah 2-3 kali lipat (mungkin ini alasan skripsi ga selesai-selesai)

Kini saya mendapati diri menanti hasil download dari kampus, rajin melihat forum, mencari subtitle, dan menyambangi situs drama wiki untuk membaca review.

Dan kini saya mendapati diri menularkan 'kegilaan' saya kepada seorang teman. Yang hebatnya, memiliki dedikasi yang lebih tinggi dalam urusan menonton dorama (bo, satu judul dihabisin dua hari!)

Suatu hari saya pernah menulis kalimat ini di Twitter 'menekuni dunia drama Asia itu membutuhkan tekad kuat, semangat baja, dan dedikasi tinggi'. Oke, lebay memang, tapi memang itu yang harus dilakukan agar anda mampu menikmati dorama. Dan itu setimpal, karena Anda akan disuguhi tayangan yang berkualitas.

*ditulis sambil memutar Angela Aki*
Published with Blogger-droid v1.6.8