Monday, May 9, 2011

Menantang Diri Sendiri

Di hujung malam yang sepi, di saat saya sendiri, handphone saya berbunyi. Rangkaian kalimat tertera di layarnya.

“Cum, yuk melu #31HariMenulis. Lengkapnya lihat di blogku aja”

Itu SMS dari Ochi eh Ardi Wilda di pertengahan bulan lalu. Tumben, pikir saya. Biasanya SMS dari Awe itu isinya tiga hal:

1. Ajakan absurd, misalnya ikut les membuat brownies. “Men aku ngganteng koyo Bucek Depp” ujarnya. Mbok nyadar lho we, takdir tak bisa diubah…

2. Ajakan gowes. Biasanya doi janjian jam 6 tapi jam 06.30 belum nongol juga (damai bro!)

3. Minjem buku. Saat bukunya dibawa, ini anak tidak nampak auranya. Atau giliran bukunya tidak dibawa, Awe malah ada (ncen ra jodoh kok de’e ki…)

Singkat cerita, saya menuju ke blognya. Saya baca-baca. “Apik ki” gumam saya dalam hati. Sebuah kompetisi yang tujuan akhirnya adalah membiasakan kita untuk menulis. Apa saja. Tanpa perlu memikirkan kualitasnya. Pokoknya nulis nulis nulis setiap hari….

Toh walau begitu saya ragu untuk mengikutinya. Mengapa? M-O-O-D-Y. Itu alasan utamanya. Iya, saya takut dengan inkonsistensi diri ini. Bukan apa-apa, saya bisa seminggu menulis lebih dari tiga kali. Tapi saya juga bisa berbulan-bulan absen dari dunia pertulisan untuk bertapa di gua nun jauh di mata. Percaya? Tidaaaak! Cih!

Tapi ya sudahlah, Bismillah, saya ikut program ini. Tujuan utamanya lebih kepada tantangan pada diri sendiri. Bisa ga sih seorang Maya, yang malasnya luar biasa, konsisten menulis selama bulan Mei? Bisa ga sih otak saya, yang sangat jarang dipakai, berguna untuk merangkai kata? Jangan-jangan dari 31 hari, saya cuma nulis tiga kali. Menang enggak, kere yang ada, saking banyaknya denda yang harus dibayar.

Dan banyak lagi pikiran yang mendera.

Tapi saya coba. Satu tulisan. Dua tulisan. Tiga tulisan. Alhamdulillah, ternyata bisa. Namun saat blogwalking ke lapak orang, saya jiper. Blog saya tidak sebagus Damar, yang konsisten menampilkan petualangan Milo (kenapa harus Milo, Dami? Kenapaaaa?). Atau Diaz yang selalu menampilkan cerita yang memikat. Saat melihat blog Binar, saya menepuk jerawat di jidat (sakit lho) sambil mengutuki diri sendiri “Kenapa juga tidak punya tema khusus untuk kegiatan ini?” Well, paling tidak saya kan bisa membuat tema “31 Hari bersama Drama dan Film Asia” atau semacamnya.

#etapi sudahlah, seiring berjalannya waktu, blog saya juga bertema kok. Anggap saja tulisan tentang kehidupan yang random ini juga menjadi tema tersendiri. Ya kan..ya kan? Bukaaaan!

Dan saya terus mengetik. Dan saya terus menulis. Dan saya terus memposting. Walau untuk itu saya harus jumpalitan mencari sinyal. Walau untuk itu saya harus berjibaku melawan rasa malas yang mendera. Dan saya terus menulis tanpa berpikir apapun. Baik itu kualitas atau total denda yang sudah terkumpul. Yah…syukur syukur sih jika menang. Uangnya bisa buat beli Philips Micro system sama Tipi (tipi rusak, kakak…kasihanilah kakak…). Tapi kalaupun saya tidak menang, it’s not a big deal. Paling saya puasa senin-kamis buat beli Micro system sama tipi. Hahahaha!

*ditemani lagu Taeyeon dan Nescafé Classic pekat (kehabisan Coffe-Mate sama gula, Puh!)*
Published with Blogger-droid v1.6.8

Sunday, May 8, 2011

Salah Memilih

Life is an adventure (copy TVC Nutrilon)

Tapi bukan. Tulisan ini bukan membahas tentang betapa bagusnya iklan ini. Bukan juga tentang betapa unyunya anak-anak di iklan itu. Bukan itu yang akan saya bahas.

Alkisah, di suatu malam Senin Minggu malam yang dingin, ada seorang gadis-kecil-lucu-nan mungil, sebut saja namanya "M" (yoooo iki aku), yang berjuang menembus malam untuk pergi ke Dunkin. Tujuannya untuk hang out dan bertransaksi dengan dua orang, yang berinisial "AJP" dan "PU".

"Nguengg..." saya pacu si Bibik. Kencang. Cepat. Walaupun tak secepat tahun cahaya #oposihcum. Bayangan film Ekusute dan film-film lainnya membayang sepanjang perjalanan. Tak lama kemudian, sampailah dia.

Setelah menaruh tas, cepat-cepat dsaya memesan menu. Perutnya sudah seperti duet Andrea Corr dan Taeyeon. Bernyanyi dengan indahnya "kami lapaaarrr....beri kami makaaaaaaaan". Saya memesan menu classic 2. Satu donat (yang saya kira) rasa sirkaya dan segelas kopi, eh, cafe-latte vanilla segera dipesan.

Cepat-cepat, ingat ada duet Andrea-Taeyeon di perut saya, donat (yang saya kira rasa sirkaya itu) dan kopi itu segera saya santap hap hap hap. Tapi sepertinya ada yang aneh...

Seberkas cahaya terang Sebuah bau nan tajam menusuk hidung. Jangan-jangan oh jangan-jangan ini.....DURIAN. Kenapa durian? Jika sekertaris sekretaris adalah kata paling durjana, dan jarum suntik adalah benda paling durjana, maka durian adalah buah paling durjana di dunia nan fana ini.

Saya cium-cium baunya lagi, tajam. Coba-coba lagi sausnya. "Sepertinya ini durian" ujar hati kecil saya. Tapi hati yang lain masih menyangkal "bukan, ini sirkaya". Yang terjadi kemudian adalah pergulatan batin: menentukan antara durian dan sirkaya. Akhirnya, saya coba lagi. Ternyata benar...

INI DURIAN

Demi kemaslahatan perut dan kebahagiaan hidup, saya terpaksa menyia-nyiakan 7 ribu rupiah saya. HIKS.... #kakMayasedih


(donat isi duren yang tersia-siakan)

Dan pada akhirnya saya membeli donat isi Sirkaya. Malu? Tentu saja tidak!

Saturday, May 7, 2011

Malam Minggu

Sabtu Malam ku sendiri, tiada teman ku nanti (Kisah Sedih di Hari Minggu – Koes Plus

“Malam Minggu ngapain? Kencan sama Tamayama Tetsuji, Kaneshiro Takeshi, dan Global TV”

Suatu hari, berbulan-bulan yang lalu, saya pernah menulis tweet semacam itu di Malam Minggu. Sumpah, saya tak berpretensi macam-macam saat menulisnya. Hanya ingin memberikan variasi di antara tweet malam Minggu yang berkisar tentang wakuncar (waktu kunjung pacar, #lawas sekali kosa katanya) atau mbojo, atau diisi dengan emoticon love-love layaknya lovey-dovey couple. Sak jane aku iki kritis, sinis, nyinyir, opo ngiri yo?

Yah apa boleh buat, kerana saya masih sendiri di usia yang hampir 22 tahun ini, saya ndak pernah ke mana-mana selama malam Minggu. Teman-teman sekosan pada pergi wakuncar, saya? Mendekam, berlumut di kamar, dan mengabdikan diri sebagai Himono Onna (a.k.a “the dried fish woman”, tonton Hotaru no Hikari untuk lebih jelasnya #promosi)

Sayangnya di tahun 2011 ini perkembangan teknologi komunikasi begitu menakjubkan sehingga mendekam sendiri di kamar adalah sesuatu yang menarik untuk dilakukan pada malam Minggu. Sayangnya lagi saya punya setumpuk film dan dorama di hard disk Shiro maupun di hard disk eksternal saya, yang seakan-akan berteriak “tonton aku, tonton aku, mumpung kamu lagi selo”. FUFUFU!

Bagi saya malam Minggu adalah sinonim dari kata nonton. Nonton apa? Ya nonton apa saja. Mulai dari nonton dorama, film, atau nonton pertandingan bola.

Nonton dorama. Berhubung malam Minggu suasana dan udaranya itu santai dan selo, menonton dorama bisa jadi pilihan yang tepat. Jika pada hari-hari biasa, dosis nonton dorama itu 1-2 episode, maka di malam Minggu dosis itu dapat dinaikkan hingga 2-4 kali lipat. Itu berarti anda bisa menonton 10 episode dorama maksimal. Jika melihat episode dorama, bukan tidak mungkin satu judul dorama selesai di satu malam. Kyung kyung sekali bukan?

Tidak suka dorama? Tenang, anda bisa mencoba menonton film. Bagi saya pribadi, malam Minggu adalah waktu yang tepat untuk mendayagunakan speaker kesayangan. Berhubung malam malam aku sendiri tanpa cintamu lagi, eh, malam malam aku sendiri di kosan, menonton film dan menghubungkannya dengan speaker adalah suatu ide yang brilian.

Film apa? Apa saja. Namun jangan paksa saya untuk menonton film komedi romantis. It’s a big NO NO! Film favorit untuk ditonton di malam Minggu adalah Battle Royale. Matikan lampu, tutup gorden, nyalakan speaker, dan scene “The Light House Battle” di film garapan Fukasaku Kenji ini terlihat jauh lebih memikat #sakit. Tak perlu pusing akan protes tetangga kosan, karena mereka pergi semua.

Sayangnya, karena begitu seringnya ditonton, BR menjadi kurang asyik. Untunglah, ada Sion Sono yang menyelamatkan malam Minggu saya.

Dan salah satu alasan terpenting untuk melewatkan malam Minggu di kos saja adalah tiga huruf ini: E-P-L. EPL alias English Premier League alias Liga Inggris. Apalagi jika The North-Londoners (baca: Arsenal atau Tottenham Hotspur) yang sedang bertanding, saya PASTI dengan senang hati mendedikasikan Malam Minggu Sabtu Malam yang indah di kamar, Adalah sebuah kepuasan tersendiri saat menyeduh kopi, menonton The North-Londoners beraksi, dan saya akan membanjiri timeline dengan tweeport (tweet report alias laporan pandangan mata yang disampaikan via Twitter) pertandingan. Masa bodoh dengan mereka yang meratap karena tak bisa wakuncaran di malam Minggu, #jahat

Namun kegiatan ini tidak bisa saya lakukan lagi karena eh karena TV uzur yang ada di kamar rusak. Hiks, coba saya punya LED TV 40 inch.

Banyak jalan menuju Roma, dan ada lebih banyak jalan lagi menikmati Malam Minggu Sabtu Malam sendiri saja” (Sumayya, 21 tahun, belum pernah wakuncar di Malam Minggu)

Sesuai kata orang bijak pada kalimat di atas, cara menikmati malam Minggu itu ada sebanyak jalan menuju Roma. Well, agak sedikit lebay banget sih. Tapi maksud saya, melewati malam Minggu sendiri itu bukan sesuatu yang patut diratapi.

Friday, May 6, 2011

Random Facts #1


(siapa bocah lucu ini? Ini SAYA)

Tulisan kali ini simpel, bercerita tentang fakta diri saya. Mengutip kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Dan mengutip kata mbak Syaharani "jangan kau bilang sayang sayang sayang, bosan aku mendengar sayang sayang sayang"...tapi kita sudah melaju terlalu jauh.

Yossh...kita mulai saja. Hajimeee!

1. Nama: Sumayya

Lahir pada 22 Agustus 1989 di Purwokerto *jebul wis tuwo gedhe*

Saya merupakan satu dari sedikit bayi yang pertama di lahir di RS Ananda, tempat lahir saya #bangga

2. Karena lahir tepat pada saat adzan Subuh, saya sempat dinamai Shobah (pagi)

Tapi sebelum itu terjadi dan nama itu dituliskan di akta, Ummi (ibu) membaca buku cerita sahabat Nabi. Nama Sumayya diambil dari sahabat Nabi yang menjadi syahidah pertama di agama Islam. Duh…berat nih artinya.

3. Nama saya Sumayya

S-U-M-A-Y-Y-A. Titik. Tanpa nama keluarga atau nama ayah. Atau nama sambungan lainnya. Tujuh huruf saja.

4. Nama saya Sumayya. Ditulis dengan dobel "Y" dan bukan dobel "M"

INI PENTING! Walau terdengar sepele, tapi nama saya sering sekali salah ditulis. Kebanyakan orang akan menulis "Summaya" atau "Sumaya" atau "Summayya" . Itu tulisan di baju pramuka sd, baju lab jaman SMA MAN, dan SEMUA seragam smp . Fakta menunjukkan, dari 50 bungkus obat yang saya miliki, 80% nya salah menuliskan nama saya *dihitung lho*

5. Saya lahir, besar, dan tinggal di Purwokerto

Jadi barangsiapa yang mengira saya dari Bukittinggi, itu salah besar. Salah besar juga jika mengira saya kembaran Tamara Bleszinsky atau masih bersaudara dengan Carissa Puteri. Dan salah besar sekali jika mengira saya bule Prancis atau Aljazair #ngelunjak

6. Seperti anak kecil lainnya, saya cedal

Problem utamanya sih sama, huruf R. Namun jika anak lain melafalkannya dengan "L" maka saya melakukan improvisasi dengan huruf lain. Maka anda akan menemukan kenyataan kata "stroberi" menjadi "dodobengi". Sampai sekarang saya kesulitan melafalkan huruf R jika berbicara cepat

7. Cita cita pertama saya adalah juru ketik

Sewaktu melihat Ummi duduk dan mengetik skripsi di mesin ketik, saya melihat itu sebagai sesuatu yang keren. Suara "tik tik tik, jklek" dari mesin ketik itu terdengar seperti gubahan musik Beethoven. Mungkin sedikit banyak pilihan hidup saya yang mempelajari media terpengaruh cita-cita masa kecil saya :))

8. Penyakitan

Sepertinya sakit itu nama tengah saya. Sejak kecil tubuh saya rentan terhadap virus, kuman, bakteri, dan segala macam makhluk durjana lainnya Flu, masuk angin, maag, flek paru-paru, infeksi saluran kencing, typhus, diare, usus buntu, you name it. Semua jenis penyakit sudah saya rasakan kecuali kanker dan tumor (ih amit amit jangan sampai deh). Eh tapi saya boleh bangga kalo saya belum pernah sakit gigi hahahahaha *dilempar stiletto*

9. Pelahap obat

Karena saya penyakitan, otomatis saya familiar dengan berbagai macam obat. Dari sekelas Parasetamol hingga Strocain. Mulai dari Tolak Angin hingga Seroline (sejenis obat untuk otak yang saya minum dulu saat mengalami penyempitan otak). Amoxycillin? Saya sudah melahap semua level dosisnya #bangga #terdengarsalah

10. Sekertaris atau Sekretaris

Kata yang paling durjana untuk diucapkan adalah “sekertaris” "sekretaris. Bagi saya, ini merupakan kata yang paling belibet untuk diucapkan karena membuat lidah berlipet-lipet. Jauh lebih belibet daripada mengucapkan kata “Bleszinsky”. Karena ribet, saya selalu mengucapkannya menjadi “sekertaris”. Jika ujian spelling bee atau mengeja di TK menggunakan kata ini, niscaya saya masih duduk di TK sampai sekarang.

11. (harusnya) saya cuma setahun di TK

Seharusnya saya hanya setahun duduk di Taman Kanak-Kanak. Konon saya tak perlu lanjut ke tingkat 0 Besar (kenapa sih ada bilangannya) karena saya sudah lancar membaca di tingkat 0 Kecil. Wali kelas saya menganjurkan agar saya lanjut ke SD saja. Namun usul ini ditolak orangtua karena fisik saya yang lebih cocok jadi anak Playgroup dibanding jadi anak kelas 1 SD.

12. Jadi Mayoret

Saya pernah lho dulu jadi mayoret di grup Marching Band TK. Dipakein sepatu ulegan, krancang krincing lempar-lemparin tongkat, dibedakin, dilipstikin. Haishh….! Malu banget jika diingat lagi sekarang. Pertanyaannya, kenapa mau? Karena saya diiming-imingi permen Pindy Lolli selama seminggu, toy figure Ksatria Baja Hitam, dan Conello gratis jika grup kami menang lomba MB waktu 17-an. Guess what? Kami menang. Jadi setelah pertandingan, saya langsung nagih traktiran Conello. Peduli amat dengan riasan yang jadi belepotan.

13. Pelahap segala

Seakan tak cukup puas dengan memasukkan makanan, saya memasukkan benda-benda aneh random ke dalam tubuh saya. Mulai dari cotton bud (dimasukkan ke dalam telinga saat umur 2 tahun), kapas (idem, umur 3 tahun), penghapus (di hidung, kelas 2 SD), dan uang koin 1000-an (ditelan , kelas 6 SD). Berhubung saya hobi sering memasukkan benda-benda aneh ke tubuh, Dokter THT adalah salah satu teman baik saya. Halo, Dokter Bambang!

14. Kelainan kelingking kiri

perhatikan baik-baik, jari kelingking kiri saya gepeng. Ini hasil dulu saya kejepit engsel pintu mobil waktu main sama sepupu saya. Sewaktu tahu tangan saya kejepit, sepupu saya nangis dan lari ke rumahnya. Saya berdiri cengengesan di tempat itu. 15 menit kemudian, sepupu dan semua orang rumah saya menarik saya dari engsel pintu mobil itu (kenapa juga harus ditarik, sih?). Karena itulah, jari kelingking kiri saya gepeng.

15. Pembenci jarum suntik

Jika “sekertaris” sekretaris adalah kata durjana, maka benda paling durjana di dunia ini adalah jarum suntik. Seriously, kenapa sih di dunia ini harus ada jarum suntik? Apakah tidak ada metode pengobatan lain yang kadar mengerikannya jauh di bawah jarum suntik? Saya sungguh sungguh sungguh membenci jarum suntik.

Sudah banyak masalah yang menimpa saya karena jarum suntik. Hari pelaksanaan PIN (pekan imunisasi nasional) di SD selalu menjadi hari paling menyeramkan. Saya mending disuruh nonton film “Pengkhianatan G30S PKI” dibanding harus disuntik vaksin polio, disentri, dan TBC (bo! 3 kali itu!). Untuk menghindarinya, saya selalu kabur atau sembunyi selama hari PIN. Sialnya, selalu ketahuan dan selalu diseret seret. Itu yang terjadi selama 6 tahun di SD.

Jarum suntik pula yang membuat saya pucat pasi saat dirawat di UGD Panti Rapih sesaat setelah kecelakaan. Saya yang masih bisa ketawa-ketiwi langsung pucat pasi saat perawat datang untuk menyuntikkan cairan tes alergi. Hari itu sungguh mimpi buruk. Tak cukup dengan suntikan anti-allergic, saya harus disuntik bius local, dan harus rela disuntik berkali-kali saat dokterya menjahit pelipis saya yang robek. Terakhir, saya disuntik anti tetanus. Total, saya disuntik 10 KALI. 10 KALI!

“Tobat Gusti….ga lagi-lagi deh tabrakan!” itu jeritan hati saya saat itu.

Thursday, May 5, 2011

Lagu Penguras Hati




Kamu bisa mendebat filosofi, tapi kamu tak bisa mendebat musik yang bagus (Yusuf Islam aka Cat Steven)

Jika Vidi Aldiano punya lagu berjudul “Cemburu Menguras Hati”, maka boleh dong saya punya list “Lagu yang Menguras Hati”. Sebuah musik yang bagus itu, katanya, adalah musik yang mampu menyentuh hati pendengarnya. Entah itu membuat pendengarnya bersemangat atau yang menguras emosi jiwa.
Walaupun saya bukan orang yang sentimentil, tapi saat mendengarkan lagu-lagu ini emosi jiwa lumayan terkuras. Saking mengirisnya, kadang saya sampai ‘mrebes mili’.

Seperti apa lagu penguras jiwa saya? Ini dia si Jali-jali eh ini dia daftarnya

#5 Mama – Nana Mouskouri

Bercerita tentang seorang bocah laki-laki yang kehilangan ibunya karena perang. Nana Mouskouri mampu menyanyikannya dengan sepenuh hati, vokalnya begitu lembut namun mampu menyampaikan pesan yang ada secara sempurna. Bagian paling menyayat hati adalah saat sang ibu meninggal namun si bocah tidak tahu jika ibunya sudah tiada. Liriknya sendiri seperti ini:

“Hush, your mamma will soon be well
Though all they can do is to wait
And one little boy hears the doctor tell
The others he thinks it's too late
It's too late

Mamma, he whispers quietly
Mamma, you' re looking old
Mamma, why don' t you answer me
Mamma, your hands feel cold”


Miris, ya? Hati pun semakin teriris karena Nana menyanyikannya sampai hampir berbisik. Suaranya bergetar menahan emosi saat menyanyikan bait terakhir (“mama, your hands feel cold”).

Kadang, saat memutar lagu ini, saya berpikir. Tentang hubungan saya dan ibu saya sendiri. Saya berpikir tentang apa yang akan saya lakukan jika saya ada dalam posisi si bocah itu. Jika tiba-tiba, ibu meninggalkan saya suatu hari…

#4 Hey Jude – The Beatles

“Hey Jude don’t make it bad
Take a sad song and make it better”
“And anytime you feel the pain

Hey Jude, refrain,
Don’t carry the world upon your shoulder”


Lagu ini sering saya putar saat menghadapi masalah yang berat. Entah kenapa lagu ini punya efek untuk menguatkan saya. Tidak hanya itu, lagu ini, terutama bait “don’t carry the world upon your shoulder”, seakan-akan menyugesti saya untuk meruntuhkan kebiasaan “suka-menyimpan-masalah-sendiri”. Walau lebih sering gagal, hehehehe…

Toh walau begitu lagu gubahan duet McCartney – Lennon ini selalu saya putar setiap menghadapi masalah.

#3 Tegami (Haikei Juugo no Kimi e) – Angela Aki

Jika “Anda-di-masa-kini” memperoleh surat dari “Anda-yang-berumur-15 tahun”, apa yang akan Anda tulis? Kira-kira begitulah isi lagu ini. Tema yang unik namun, akuilah, setidaknya kita pernah memikirkan tentang hal yang sama, kan?

Mendengarkan lagu dari album “ANSWER” ini sedikit banyak membuat saya berpikir tentang kehidupan saya masa kini, Jika, andai mungkin terjadi, saya mendapat surat dari “saya-di-masa-lalu”, jawaban apa yang akan saya sampaikan? Apakah jawaban yang saya berikan sudah cukup bagus? Apakah diri saya di masa lalu akan puas dengan jawaban tersebut? Apakah “saya masa kini” sudah dianggap dewasa oleh “saya-di-masa-lalu”, dan banyak pertanyaan lain.

Singkatnya, ini lagu yang dapat anda jadikan refleksi untuk diri sendiri.

#2 I Love You – Kim Tae Yeon

Lagu yang bertema “I love you but we can’t be together”. Dari temanya saja, lagu ini sudah nggerus. Bukan, bukan dalam level “Baik-Baik Sayang” dari Wali. Beda, tidak adil jika kita membandingkan dua lagu ini. Lagu ini termasuk dalam playlist “Galau” di iTunes saya. Bersama dengan 66 lagu lainnya (astaga…GALAU sekali anak ini)

Penyanyinya, Kim Tae Yeon, adalah leader dari SNSD (ya…grup cewek berkaki panjang dari Korea itu). Taeyeon inilah yang membuat soundtrack drama Athena ini begitu indah dan menyayat hati, layaknya tipe suara orang dari marga Kim lainnya #mulaingaco.

Dengarkan sekali, dua kali, dan anda akan mendapati diri nyakar-nyakar tembok. Saking nggerusnya (Tidak berhasil? Coba tonton Athena episode 16)

#1 Father and Son – Cat Steven

Ini lagu yang sangat menguras jiwa. Sangat sangat menguras jiwa.

Suatu hari, saya bertengkar hebat dengan Abah di telepon. Sangat hebat. Karena kami sampai tidak berkomunikasi sama sekali selama 3 minggu lebih. Tidak telepon atau mengetik sms sekalipun. Apa boleh buat, kami sama-sama keras kepala, saklek, dan punya gengsi yang tinggi.

Saat emosi masih tinggi, saya ambil iPod dan, secara ajaib, mengalunlah lagu dari album “Teaser and The Firecat” ini.

Judulnya boleh saja “Father and Son”, tapi bagi saya, lagu ini secara sempurna menggambarkan hubungan saya dan Abah. .Tentang seorang ayah dan anak yang sama-sama teguh dan keras kepala. Tentang seorang anak dan ayahnya yang bertengkar tentang masalah yang prinsipil. Tentang seorang anak yang tidak ingin dikekang oleh peraturan orangtua. Tentang seorang ayah yang dulu pernah menghadapi situasi yang sama, dan kini mencoba menghindarkan anaknya dari situasi serupa. Intinya, konflik antar generasi. Jenis konflik yang selalu ada dalam hubungan orangtua dan anak.

Cat Steven, dengan mengandalkan permainan gitarnya yang luarrrr biasa itu, bernyanyi dengan luarrr biasa. Penyanyi yang setelah masuk Islam mengganti namanya menjadi Yusuf Islam ini berperan sebagai ayah dan anak sekaligus. Saat menjadi ayah, suaranya menjadi rendah dan berat. Menggambarkan ayah yang penuh perhitungan dan berwibawa. Sebaliknya, saat bagian sang anak, suaranya menjadi lantang dan tinggi. Menggambarkan anak muda dengan semangatnya yang berapi-api
DEG! Saya tertegun. Lagu ini, secara ajaib, membuat saya sedikit banyak memahami perkataan Abah saat kami bertengkar. Saya putar lagi…lagi…lagi….dan setelah 50 kali diputar, saya menyadari jika Panlu sudah basah oleh air mata.
Dan ternyata, nun jauh di kampuang nan jauh di mato, Abah sedang memutar lagu ini. Mengingat kami sama-sama suka Cat Steven (dan Nini Rosso, Queen, Creedence Clearwater Revival, dan Nana Mouskouri. Ya…selera musik saya sedikit banyak dipengaruhi beliau).

Dan lagu ini saya nobatkan menjadi “Lagu Paling Menguras Jiwa” karena saya tidak bisa tidak terharu setiap lagu ini diputar. Paling tidak, “mrebes mili” lah #alesan

(Father)
It's not time to make a change,
Just relax, take it easy.
You're still young, that's your fault,
There's so much you have to know.
Find a girl, settle down,
If you want you can marry.
Look at me, I am old, but I'm happy.

I was once like you are now, and I know that it's not easy,
To be calm when you've found something going on.
But take your time, think a lot,
Why, think of everything you've got.
For you will still be here tomorrow, but your dreams may not.

(Son)
How can I try to explain, when I do he turns away again.
It's always been the same, same old story.
From the moment I could talk I was ordered to listen.
Now there's a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.

(Father)
It's not time to make a change,
Just sit down, take it slowly.
You're still young, that's your fault,
There's so much you have to go through.
Find a girl, settle down,
if you want you can marry.
Look at me, I am old, but I'm happy.

(Son)
All the times that I cried, keeping all the things I knew inside,
It's hard, but it's harder to ignore it.
If they were right, I'd agree, but it's them
They know not me.
Now there's a way and I know that I have to go away.
I know I have to go