Tuesday, May 24, 2011

Nestapa (Balada Anak Kos)

"Nestapa (kata sifat) keadaan yang sangat sedih atau susah sekali (Kamus Besar Bahasa Indonesia)"

Saya tidak tahu harus berkata apa untuk hari yang sebentar lagi akan berakhir ini. Sudah jatuh tertimpa tangga. Peribahasa itu sungguh tepat untuk menggambarkan nasib saya.

Berawal dari kejadian pagi tadi, saya sudah wangi, rapi jali dan bersiap untuk pergi ke kampus Seperti biasa, saya bersama Raden Mas (Raden Mas Singomenggolo Jalmowono lengkapnya, jika Anda ingin tahu). Hanya beberapa meter dari kos, saya kok merasa Raden Mas ini bagian belakangnya tidak satabil. Gludak gluduk suaranya. Penasaran, saya lihat ban belakangnya…

Ulala, ban belakangnya sudah rata. Jika Anda mengenal istilah run flat tyres maka ban sepeda saya adalah flat tire dalam arti harfiah. Benar-benar rata. Rim-nya sudah hampir keluar. Dan yang bikin saya panik adalah dop (pentil ban) si Raden Mas entah ke mana. Panik, saya mencari dop yang berwarna hitam di hamparan aspal yang hitam juga. Ketemu. Saya menuju bengkel motor terdekat, yang pemiliknya adalah kenalan saya mengingat kami suka bersepeda. Waktu menunjukkan pukul 09.45….

“Pak, ada dop ukuran 26?” tanya saya

“Wah ga ada, mbak. Adanya yang ukuran 27” katanya. (dalam hati saya berkata, “besok-besok harus upgrade ban jadi 27”)

Si Bapak menyarankan agar saya pergi ke bengkel pak Topo, tetangga yang juga suka sepeda (beliau punya sebuah Pinarello yang selalu diajak ke Pakem setiap Minggu pagi). Saya berjalan menuntun Raden Mas.

Suara vokalis Four Non Blondes yang sedang bernyanyi di iPod memenuhi kepala “What’s going on?

Waktu menunjukkan pukul 10.05…

Sesampainya di sana, bengkelnya belum buka. Asem.

Apa daya, saya memutuskan menuju toko sepeda di daerah Gejayan. Berjalanlah kami di trotoar, muka saya panas. Wajah saya sudah asin asin pahit karena lunturan bedak. “Coba bedakku Shiseido Maquillage, ga luntur deh” begitu pikir saya *plak* *sempet sempetnya*.

Akhirnya kami sampai. Saya langsung mencari ban dalam. Dan kepikiran jika lampu belakang mati dan joknya agak sedikit keras. Saya memutuskan untuk membeli lampu belakang dan sadel Velo Plush. Ditotal sama mbaknya. 210 ribu katanya. Saya pamit menuju ATM terdekat.

Sesampainya di ATM, saya buka dompet. DANG! Yang ada hanya ATM Mandiri.

ATM Shar’e saya entah di mana.

Saya kubek-kubek dompet. Membuang semua nota. Tidak ada.

Waktu menunjukkan pukul 10.45...

Suara vokalis Four Non Blondes yang sedang bernyanyi di iPod semain kencang terdengar di kepala “Hey! What’s going on?

Saya balik ke tokonya. Lemas dan pucat. Ditanya saya oleh mbaknya kenapa. ATM hilang kata saya. Mbaknya menenangkan saya. Saya telpon teman. Tapi dia juga ga punya uang. Saya telpon ibu kos.

Eh di tengah perbincangan tahunya putus. Pulsa habis

Saya mengutuki provider merah.

Akhirnya saya pinjam telpon di toko untuk menelpon kos. Si Mbaknya terus menenangkan saya. Ibu kos bisa meminjamkan uang. Tapi…”kamu ambil ke kos ya, May. Aku mau pergi soalnya”. Jadi saya berjalan ke kosan.
Waktu menunjukkan pukul 11.15...

Suara vokalis Four Non Blondes yang sedang bernyanyi di iPod semain kencang terdengar di kepala “Hey! WHAT’S GOING ON?”

Sampai di kos saya bongkar kamar. Berharap si ATM nyelip atau ternyata ada di saku celana. Sia-sia. Nihil adanya. Saya balik ke toko sepeda.

Waktu menunjukkan pukul entah berapa...

Suara vokalis Four Non Blondes yang sedang bernyanyi di iPod semain kencang terdengar di kepala “I said, ‘Hey!’ WHAT’S GOING ON?”

Saya akhirnya hanya membeli ban dalam. Saya terus-terusan meminta maaf sama mbaknya. Untung mbaknya baik.

Lalu saya ke kampus. Lho? Soalnya saya sudah bingung mau ngapain lagi. Sampai di sana. Duduk di lobi dan berpikir tentang nasib hari ini. Saya ketik kalimat ini:

“Ban dalam sobek, ATM hilang, pulsa habis. What’s worse?”

DibalAs oleh Nea, teman KKN saya “tangan kiri cidera”.

Raam Punjabi bisa bikin sinetron dari cerita saya hari ini.

Di saat kebingungan melanda, saya baru sadar ada email masuk. Dari Arum. Ngajakin sarapan. Saya bales “ATM ku hilang”. Terkejut dia, padahal dia tidak perlu terkejut karena temannya ini sering bertingkah ajaib. “Cepetan diurus” katanya. Ah..Arum ini memang pintar dan bijaksana (yakin saya dia pasti senang jika baca ini).

Maka saya pergi ke kantor Muamalat. Setelah ditanya macam-macam, untuk verifikasi, dan saya minta pemblokiran rekening (ah, saya merasa brilian sekali saat menanyakan ini), kesimpulannya adalah “kartunya nanti kita cetak. Waktunya dua minggu kerja.”

Saat itu saya merasa penyakit tekanan darah rendah saya kumat. Pusing dan berkunang-kunang.

Dan suara vokalis Four Non Blondes yang sedang bernyanyi di iPod semain kencang terdengar di kepala “I SAID, ‘HEY!’ WHAT’S GOING ON?”

Saya lapor Arum. Doi tetap ngajakin makan. Tempatnya? Rempah Asia. Posisi saya di Masjid Kampus. Pendapat saya ada dua:

Pertama, “Arum ngajak berantem sumpah. Masa aku sepedaaan dari Maskam ke Rempah Asia, panasan begini, bahu kiriku sakit lagi”

Kedua, “Ya udah sih, makan mah makan aja. Daripada pingsan seharian belum makan.”

Pendapat kedua yang menang. Saya kayuh Raden Mas dengan sisa tenaga yang ada. Sepanjang jalan menguatkan diri agar tidak pingsan dan meringis menahan sakit. Syukur Ya Allah, saya sampai dengan selamat. Di sana sudah ada segerombolan mas-mas Malaysia lagi ngobrol sampai ketawa ngakak. Saya duduk di seberang cowok yang mukanya mirip Ashraff. Lumayan. Ngademin kepala.

Tak beberapa lama, Arum datang. Kami makan sambil cerita-cerita. Untungnya dia baik mau bayarin saya. Sebenarnya saya takut akan ada hujan badai disertai petir karena perbuatannya itu, tapi ternyata tak ada apa-apa.

Kami pun berpisah. Dia perawatan. Saya balik kosan. Sampai saya di kosan. Utuh tanpa kurang apapun. Lapor lagi ke Arum. Saya mesti anteng. Ga boleh salto katanya. Saya turutin.

Saya buka dompet. Yang tersisa tinggal selembar sepuluh ribuan, selambar lima ribuan, dua lembar uang dua ribu, dan selembar uang seribu. Saya lihat kalender.

Tanggal 30 masih lama.

Kali ini suara Natalie Oreiro yang bermain di kepala “Cambio dolor por libertad...”

Saya tiduran, buka laptop dan marathon nonton tiga judul film sekaligus.

Jika hari Sabtu dan Minggu kemarin kata yang cocok untuk mendeskripsikan nasib saya adalah "DERITA". Maka di hari Selasa ini kata itu berubah menjadi "NESTAPA".

Sekarang tinggal memikirkan cara bertahan hidup dengan uang 20 ribu untuk 3 - 4 hari ke depan *putar otak*

HORUMOOOOO!

Published with Blogger-droid v1.6.8

No comments:

Post a Comment